CATATAN RUSIA – Menjemput Drama Di Kota Tanpa Malam

Posted on

Di antara kesyahduan kota Saint-Petersburg, Zenit Arena menjadi tempat yang menggelora berkat pertandingan Piala Dunia yang super dramatis. LAPORAN LANGSUNG DARI SAINT-PETERSBURG OLEH TEGAR PARAMARTHA Ikuti di twitterArtikel ini bekerja sama dengan Vivo selaku sponsor resmi Piala Dunia 2018 untuk Piala Dunia 2018, Piala Konfederasi 2021 dan juga Piala Dunia 2022. Semua foto dan video dalam artikel ini didapatkan melalui ponsel Vivo V9 edisi terbatas Piala Dunia. Setelah melahap sajian pembukaan Piala Dunia 2018 di Moskwa (15/6), penulis langsung terbang ke kota terbesar kedua di Rusia keesokan pagi waktu setempat (16/6) menggunakan pesawat dengan perjalanan sekitar 1,5 jam, Saint-Petersburg, Kota yang berdampingan dengan teluk Finlandia ini menyambut dengan cara yang sama sekali berbeda dibanding Moskwa, bila ibukota Rusia itu memaksa orang-orang mengenakan pakaian tebal, Saint-Petersburg seolah “membiarkan” matahari mengirim kehangatan bagi masyarakat.

window.ads.push({“placementName”:”bettingwidget”,”sizes”:{“default”:[],”320″:[“300×250″,”300×600″],”980″:[]},”uuid”:”ad-5b332d54580b1″,”slotName”:”/67970281/DISPLAY_OWNED_GBL/goalcom_responsive/news_articles/bettingwidget”,”name”:”ad-betting-widget”,”useLazyLoad”:false}) Banyaknya sungai dan kanal yang melintasi kota, juga membuat suasana tampak jauh berbeda, rasa tenang dan nyaman langsung menancap ketika menyusuri jalanan dari bandara menuju hotel tempat menginap, tak heran kota ini menjadi pusat budaya negara. Namun, ada satu titik di mana hal itu tidak lagi terasa, yaitu ketika memasuki area Zenit Arena, tempat duel antara Maroko dan Iran pada laga grup B Piala Dunia digelar. Adrenalin langsung terpacu dengan keindahan dan kemegahan stadion berkapasitas 67 ribu plus keriuhan suara suporter yang terus menggema meski laga belum akan dilangsungkan sekitar tiga jam ke depan. Fans Iran terdengar paling nyaring, selain karena jumlah mereka tampak jauh lebih banyak daripada suporter lawan, mereka juga terlihat lebih kompak dalam berkumpul. “Ini hari yang sangat melelahkan,” tukas FIFA Venue Manager, Malgin Vladimir, ketika ditemui. Menggambarkan betapa besar antusias kedua suporter yang datang ke Zenit Arena. Hasil di atas lapangan pun sangat memuaskan, setidaknya bagi fans netral dan juga pendukung Iran, dengan skuat asuhan Carlos Queiroz meraih kemenangan secara super dramatis. Maroko bermain dengan lebih dominan, baik dalam penguasaan, jumlah umpan dan juga jumlah tembakan. Namun, Aziz Bouhaddouz yang masuk di paruh kedua melakukan kesalahan masif di menit akhir injury time. Penyerang berusia 31 tahun tersebut salah mengantisipasi tendangan bebas dari sisi kanan pertahanan, Bouhaddouz melakukan diving header yang malah mengarahkan bola masuk ke dalam gawang sendiri. Gol tersebut sontak disambut kegembiraan puluhan ribu fans Iran yang sangat dominan, sementara fans Maroko dipaksa menelan kekecewaan melihat pesta kemenangan lawan di depan mata mereka. Artikel dilanjutkan di bawah ini Suasana riuh di dalam stadion berlangsung cukup lama, dan tidak ada tanda akan segera berhenti setelah pemain-pemain Iran mendekati area tribun suporter untuk merayakan tiga angka krusial. Sebuah ending yang sangat menggelegar di kota yang syahdu ini. Sepulang dari Zenit Arena, penulis melanjutkan perjalanan dengan menyaksikan laga Portugal dan Spanyol, namun tentu melalui layar kaca, dan setelah itu bersiap untuk menikmati ‘White Night’ atau malam putih, di mana kota masih diselimuti cahaya matahari meski waktu sudah mendekati tengah malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *